Nasib Bendungan di Sulsel, Di Lutra, Baliase Tersandung Lahan


Petani di Kabupaten Luwu Utara nyatanya telah lama menanti pemanfaatan Bendungan Baliase. Bendungan yang dibangun sejak 2015.

Hingga saat ini bendungan itu belum difungsikan. Padahal, sudah diresmikan Syahrul Yasin Limpo, di pengujung jabatannya sebagai Gubernur Sulsel.

Bendungan ini dibangun dengan anggaran Rp1, 3 triliun. Sudah termasuk jaringan irigasinya. Proyek strategis nasional ini dikerjakan PT Waskita- Cempaka( KSO) selaku kontraktor pelaksana. Konsultan supervisinya, PT Caturbina Guan Persada- PT Widya Graha Asama( KSO).

Awalnya, bendungan ini akan mengaliri sawah 18 ribu hektare. Namun, mengalami penambahan seluas 3. 000 hektare. Jadi totalnya 21 ribu hektare. Petani di Kecamatan Masamba, Malangke, Baebunta, Mappideceng, serta Sukamaju, pastinya akan menikmati bendungan ini.

“ Bendung Baliase sudah selesai. Tinggal jaringan belum beres. Sudah penyerahan awal. Tinggal menunggu penyerahan akhir,” tutur Kepala Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Luwu Utara, Ibnu Suteki, pekan lalu.

Pembangunan bendungan hanya butuh waktu tiga tahun untuk diselesaikan. Kontraktor pelaksananya pun sudah melakukan penyerahan awal proyek ini ke Kementerian Pekerjaan Umum. Saat ini, masih tahap pemeliharaan. Seluruh pintu air telah ditutup. Belum difungsikan.

Nantinya, air yang masuk ke jaringan irigasi kiri dan kanan kembali dibuang ke sungai. Hal ini dikarenakan jaringan irigasi masih tahap pembebasan lahan dan pekerjaan. Pembebasan lahan dan pekerjaan fisik dilakukan bersamaan. Setiap lahan yang sudah dibebaskan langsung dikerja rekanan.

“Pembangunan jaringan irigasi sudah berlangsung setahun. Pekerjaannya sepotong-sepotong. Tergantung mana lahan yang sudah dibebaskan. Posisi Pemerintah Luwu Utara hanya sebagai penerima manfaat,” urainya.

Pembangunan bendungan ini dibagi beberapa tahap. Jaringan Irigasi D.I. Baliase Kiri (Paket II), dilaksanakan oleh PT. Jaya Konstruksi – PT. Bumi Karsa KSO, dalam jangka waktu 1.080 hari kalender atau 36 bulan. Anggarannya Rp366,4 Miliar.

Proyek ini disupervisi PT Widya Graha Asana JO PT. Inakko internasional Konsulindo dan PT. Arga Pasca Rencana. Anggarannya Rp8,1 miliar.

Kemudian, Baliase Kanan I (Paket III). Proyek ini dilaksanakan PT Abipraya – PT. Langgeng – PT. Marinda, dengan anggaran Rp373,3 miliar. Batas waktu pelaksanaan proyek sama. 1.080 hari kalender atau 36 bulan. Supervisi dilaksanakan PT Virama Karya dengan anggaran Rp8,6 miliar.

Hutama-Citra-Entolu, KSO sebagai pelaksana Pembangunan Jaringan Irigasi D.I. Baliase Kanan II (Paket IV) menghabiskan anggaran Rp297,9 miliar. Waktu pekerjaannya sama dengan pembangunan sebelumnya.

Pengawasan dilakukan PT Daya Cipta Dianrancana dan PT Bintang Inti Rekatama dengan anggaran Rp8,045 miliar. Sesuai rencana, jaringan Irigasi bagian kiri sedianya menga;iri 7.880 hektare, sedangkan bagian kanan akan mengaliri 10.388 hektare sawah.

Adapun area pengembangan (Rehabilitasi J.I. Malangke) seluas 3.560 hektare. Diperkirakan total area sawah yang akan dialiri 21.920 hektare. Jika itu berhasil, tentu berdampak positif bagi Lutra.

“Pastinya kalau berfungsi, produksi padi meningkat,” ungkap Sekretaris Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Pemkab Lutra, Surya Lewa.

Berdasarkan catatan, luas areal persawahan di Lutra mencapai 27.542 hektare. Kemudian naik menjadi 27.853 hektare pada 2017. Pada 2018, luasannya kembali meningkat menjadi total 28.404 hektare.

Adapun luas lahan produksi pada 2016 mencapai 44.927 hektare. Luasan ini menurun pada 2017 menjadi 41.369 hektare. Luasan ini kembali naik pada 2018 dengan 43.640 hektare. Tahun ini, turun 25.396 hektare.

“Produksi padi 2016 mencapai 237.573 ton, meningkat di tahun 2017 menjadi 239.443 ton. Tetapi, Kemudian menjadi 248.290 ton di 2018. Tahun ini, turun 131.467 ton. Ketika jaringan irigasi berfungsi. Produksi padi meningkat. Areal sawah juga akan bertambah,” paparnya.

Masyarakat Baliase, Ramadhan Razak berharap pembangunan jaringan irigasi sepanjang 70 kilometer bisa segera diselesaikan. Pemerintah daerah dan BPN harus tegas dalam pembebasan lahan. Sejauh ini, sebagian petani masih berharap hujan untuk memaksimalkan areal sawahnya.

“Kalau rampung, pastinya sawah tadah hujan sudah bisa teraliri air. Kami harap pemerintah bisa lebih serius lagi,” pintanya.

Di satu sisi kehadiran Bendung Baliase memang akan mendongkrak produksi padi. Posisi bendungan yang berada di kota kabupaten, juga akan ikut memacu pertumbuhan ekonomi.

Bendungan ini akan menjadi ikon daerah tersebut. Sekaligus, menjadi salah satu destinasi wisata. Di sekitar bendungan akan dibangun ruang terbuka hijau (RTH). Taman bermain hingga area olahraga akan ikut dibangun.

Beberapa area untuk lapak pedagang juga akan dibangun. Pastinya, akan ditata dengan baik. Hanya saja, semua itu bisa terwujud jika pembangunan jaringan irigasi tidak lagi diadang kisruh pembebasan lahan.

Pengeluaran alokasi biaya tidak langsung kantor pusat dari kontraktor yang memenuhi sejumlah syarat tertentu juga tidak lagi termasuk dalam objek pemotongan PPh dan pemungutan PPN.

QFS Indonesia merupakan salah satu Penyedia Badan Sertifikasi ISO, Akan membantu Bisnis dan Organisasi Anda dalam menerapkan dan tersertifikasi ISO dengan proses mudah

 

Mau Proses Sertifikat ISO dengan Proses Mudah, Valid Absah Plus bisa dapat Dokumen Pendukung ISO serta Pelatihan ISO ?
Untuk lebih lanjut, silahkan hubungi kami