Kemenperin Terapkan Strategi Wujudkan Industri Batik Ramah Lingkungan


Sebagai upaya meningkatkan daya saing industri batik nasional dan mendukung implementasi Industri Hijau di sektor komoditi batik, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pelaku industri batik di Indonesia untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber daya lokal terbarukan serta melakukan efisiensi energi dalam proses produksinya.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian, Dr Ir Doddy Rahadi, MT saat menjadi Keynote Speaker Webinar Kemitraan UKM Batik Sawit “Kontribusi Sawit dalam Mendukung Industri Kreatif Batik Indonesia,” Sabtu (10/5/2021) menuturkan prinsip industri hijau atau industri berwawasan lingkungan juga dapat diterapkan di seluruh sektor industri, termasuk Industri skala Kecil dan Menengah (IKM) seperti industri batik sekalipun.

“Dengan adanya Standar Industri Hijau untuk produk batik yang telah kami berlakukan sejak tahun 2019 lalu, mudah-mudahan bisa membantu perajin batik dalam mengimplementasikan prinsip industri hijau dalam proses produksinya. Karena dalam SIH tersebut terdapat pedoman tentang penggunaan bahan baku, bahan penolong, dan energi; proses produksi; produk; manajemen pengusahaan sampai pada pengelolaan limbahnya,” ujarnya.

Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Kemenperin Ir Titik Purwati Widowati, MP menambahkan beberapa contoh aksi dalam mewujudan industri hijau di industri batik, yakni pengunaan media batik dari serat alam, penggunaan pewarna alami dan formula malam batik yang sumbernya dapat diperbaharui, misal malam batik berbasis sawit.

“Selama ini, bahan baku produksi batik masih menggunakan malam (lilin) dari formulasi parafin. Seperti diketahui, parafin bersumber dari minyak bumi dan diprediksi perlahan akan habis karena termasuk energi yang tidak dapat diperbarui. Hal ini dapat mengancam kelangsungan industri batik tanah air. Selain itu, sebagian bagian besar parafin masih diperoleh dengan cara impor,” jelasnya.

Dengan menggunakan malam batik berbasis sawit, imbuhnya dapat menekan importasi parafin dan secara otomatis, Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) industri batik juga akan meningkat.

“Perekayasaan alat yang dapat meningkatkan produktivitas dan efektifitas produksi, serta penerapan teknologi daur ulang limbah sisa produksi seperti daur ulang sisa malam batik maupun daur ulang limbah bahan pewarna juga bisa membantu mewujudkan industri batik berwawasan lingkungan” imbuhnya.

Seperti yang dicanangkan oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Dr Agus Gumiwang Kartasasmita, menekankan pentingnya melakukan pengelolaan limbah industri yang dihasilkan agar tidak merusak ekosistem lingkungan.

Maka dari itu BSKJI Kemenperin menerapkan berbagai strategi seperti penyusunan standar, labelisasi dan sertifikasi produk batik untuk penjaminan kualitas mutu batik berupa SNI batik, Standar Industri Hijau (SIH) untuk produk batik, labelisasi batikmark dan sertifikasi produk batik, penyediaan lembaga uji dan sertifikasi seperti laboratorium uji dan kalibrasi industri kerajinan dan batik, Lembaga Sertifikasi Produk dan Sistem Manajemen Mutu, Lembaga Sertifikasi Profesi batik, Lembaga Sertifikasi Industri Hijau batik.

Selanjutnya ada pengembangan dan pemanfaatan teknologi lewat program pelatihan kepada SDM industri, program inkubasi seperti Innovating Jogja yang merupakan program inkubasi start-up di bidang batik dan kerajinan, alih teknologi, bimbingan teknis, workshop, dan klinik konsultasi serta banyak program lain.

Sumber : Krjogja.com

QFS Indonesia merupakan salah satu Badan Sertifikasi ISO, Akan membantu Bisnis dan Organisasi Anda dalam menerapkan dan tersertifikasi ISO dengan proses mudah

Mau Proses Sertifikat ISO dengan Proses Mudah, Valid Absah Plus bisa dapat Dokumen Pendukung ISO serta Pelatihan ISO ?
Untuk lebih lanjut, silahkan hubungi kami.