Kontraktor Asal Solo Gabriella Yuan Ana Divonis 1,5 Tahun Penjara


Kontraktor asal Solo yang menjadi pemenang lelang proyek revitalisasi saluran air hujan Jl Supomo Yogyakarta, Gabriella Yuan Ana Kusuma divonis hukuman 1,5 tahun penjara dan denda Rp100 juta subsider tiga bulan penjara.

Putusan itu dijatuhkan majelis hakim dalam sidang putusan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Yogyakarta, Kamis (16/1/2020). Majelis hakim yang dipimpin Suryo Hendratmoko saat membacakan putusan menyatakan bahwa terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi dan selama persidangan tidak ditemukan hal-hal yang bisa membebaskan terdakwa dari dakwaan.

Terdakwa diketahui memberikan suap kepada Jaksa Eka Safitra yang diberikan dalam tiga tahap dengan total nilai Rp221,7 juta. Suap tersebut dimaksudkan untuk memenangi proyek pekerjaan revitalisasi saluran air hujan di Jl Supomo Yogyakarta.

Buntut OTT Di Solo, Kantor Di Fajar Indah Digeledah KPK Rabu Malam

Revitalisasi saluran air hujan di Jl Supomo dan sekitarnya adalah proyek pekerjaan dari Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta yang dibiayai melalui APBD Kota Yogyakarta 2019. Anggaran yang dialokasikan untuk pekerjaan tersebut mencapai Rp10,8 miliar.

Proyek pekerjaan dengan nilai anggaran yang lumayan besar tersebut setelah itu mendapatkan pendampingan dari Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri Yogyakarta. Dalam tim tersebut, jaksa Eka Safitra dari Kejaksaan Negeri Kota Yogyakarta jadi salah satu anggota tim.

Eka diketahui berupaya mengarahkan DPUPKP Kota Yogyakarta untuk masukkan ketentuan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) dalam lelang pekerjaan.

Lelang proyek revitalisasi yang dibuka pada Februari 2019 kemudian pun sempat ditunda hingga dibuka kembali pada April 2019. Hasilnya, PT Widoro Kandang sebagai bendera perusahaan yang dibawa Gabriella ditetapkan sebagai pemenang lelang dengan nilai kontrak Rp 8,3 miliar.

“Jaksa seharusnya tidak melakukan intervensi terhadap proses lelang, tetapi berkonsentrasi pada pelaksanaan pekerjaan supaya sesuai dengan kontrak. Imbalan yang diterima juga bertentangan dengan tugas dan kewenangan jaksa yang seharusnya mengawal dan mengamankan proyek,” kata Suryo.

Vonis yang dijatuhkan kepada terdakwa tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa yaitu pidana dua tahun penjara dan denda Rp150 juta subsider tiga bulan kurungan.

Kronologi OTT KPK Jaring Kontraktor Asal Solo dan 2 Jaksa

Atas vonis Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Yogyakarta tersebut, penasihat hukum terdakwa menyatakan pikir-pikir. “Kami akan konsultasikan vonis ini kepada keluarga terlebih dulu,” kata Penasihat Hukum Widhi Wicaksono.

Tim penasihat hukum juga akan mengajukan permohonan pemindahan tempat penahanan dari semula di LP Wirogunan Yogyakarta menjadi di Rutan Surakarta. “Tujuannya supaya lebih dekat dengan keluarga,” katanya.

Hal yang sama disampaikan Jaksa Penuntut Umum Wawan Yunarwanto yang menyatakan pikir-pikir atau putusan hakim.

“Kami akan sampaikan hasil persidangan ini ke pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK] terlebih dulu,” katanya.

Dalam persidangan tersebut, Wawan mengatakan bahwa fokus persidangan dengan terdakwa Gabriella Yuan Ana Kusuma baru pada peran dari jaksa yang tergabung dalam TP4D pada proses lelang yaitu memberikan informasi kepada pihak ketiga dengan tujuan mendapat uang.

Buntut OTT KPK di Solo-Jogja, TP4D Rawan Korupsi?

“Apakah proses penentuan pemenang lelang melalui Badan Layanan Pengadaan (BLP) Kota Yogyakarta sudah sesuai ketentuan atau tidak masih perlu pendalaman fakta lebih jauh lagi,” katanya yang berharap melalui kasus tersebut bisa menjadi pintu masuk pemberantasan korupsi di Yogyakarta.

Sementara itu, terdakwa Eka Safitra juga menjalani sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dengan proses persidangan memasuki tahap mendengarkan keterangan dari saksi.

Selain itu, masih ada Satriawan Sulaksono, jaksa Kejaksaan Negeri Surakarta yang juga menjadi terdakwa dalam kasus suap revitalisasi saluran air hujan Jl Supomo. Persidangan untuk kasus tersebut juga berproses di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Yogyakarta.

QFS Indonesia merupakan salah satu Penyedia Badan Sertifikasi ISO, Akan membantu Bisnis dan Organisasi Anda dalam menerapkan dan tersertifikasi ISO dengan proses mudah

Mau Proses Sertifikat ISO dengan Proses Mudah, Valid Absah Plus bisa dapat Dokumen Pendukung ISO serta Pelatihan ISO ?
Untuk lebih lanjut, silahkan hubungi kami